Posted in Education

Halang Rintang Mendaftar Beasiswa LPDP untuk Studi S3

Saya termasuk tipe orang yang ngotot ketika memiliki kemauan. Sifat alami saya sedari kecil ini memang kadang merugikan, tetapi tidak sedikit juga membawa kebaikan. Kebaikan yang saya dapatkan dari sifat ini adalah daya tahan saya dalam berjuang ketika mengejar cita-cita maupun dalam menyelesaikan pekerjaan. Seolah-olah dalam jiwa saya ada yang selalu berkata, “saya bisa! jika gagal, saya harus coba lagi” atau “masih ada harapan” atau “tidak ada yang mustahil”.

Cerita tentang bagaimana proses saya dalam melanjutkan studi S3 dan mendaftar beasiswa adalah salah satu kisah dengan banyak “ngotot”. Namun kengototan saya berbuah manis. Saya dapatkan apa yang saya harapkan. Di titik ini, saya merasa melanjutkan studi ke jenjang S3 dan mendapatkan beasiswa itu mudah karena sudah mencapainya. Tetapi, teman-teman yang sedang memperjuangkan mimpi yang sama dengan saya tentu memiliki perasaan berbeda. Semoga cerita ini mampu membakar semangat teman-teman dalam mencapai apa yang dicita-citakan.

Niat untuk melanjutkan studi S3 sudah saya mulai sejak 4 tahun sebelum terealisasi

Tahun 2012 adalah tahun di mana saya menjalani tahun pertama studi S2 di Thailand. Sejak saat itu saya sudah mulai berangan-angan untuk menempuh S3 dalam beberapa tahun ke depan. Saat menghadiri ngajikok (singkatan dari pengajian mahasiswa bangkok), cita-cita saya mengenyam pendidikan di Inggris sempat terucap di sela-sela obrolan dengan beberapa teman. Alasan sederhana ingin sekolah di Inggris saat itu adalah kami cukup kesusahan menjalani hari-hari dengan Bahasa Thai yang belum banyak kami pahami. Mungkin dengan sekolah di salah satu English-speaking countries, kami tidak akan terlalu memiliki kendala bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Alasan lainnya tentu saja karena Inggris adalah negara yang memiliki puluhan kampus terbaik dunia. Kemudian, mengapa ingin S3? Bagi saya, sekolah S3 bukan semata untuk memperoleh gelar. Saya merasa sudah asik dengan bidang keilmuan yang saya kerjakan. Sekolah S3 dapat menempa saya untuk menghasilkan kontribusi-kontribusi signifikan pada bidang ilmu yang saya pelajari.

Tidak banyak hal yang saya lakukan dalam 2 tahun setelah niat untuk sekolah di Inggris itu muncul. Tetapi, setidaknya saat itu saya memiliki alasan untuk bersemangat mengerjakan riset dan membuat bahasa Inggris saya lebih baik. Saya yakin profil akademik yang baik dan kemampuan bahasa yang meningkat akan memudahkan saya untuk menggapai keinginan saya tersebut.

Kursus IELTS sambil bekerja, menempuh perjalanan 100 kilometer setiap Sabtu dan Minggu

Akhir tahun 2013, saya mulai bekerja di sebuah badan riset teknologi elektronika dan komputer nasional milik Thailand. Kenapa saya bekerja? bukankah saya ingin sekolah S3?

Disamping karena saya masih betah tinggal di Thailand saat itu, saya merasa hidup juga perlu strategi. Pertama, saya tidak ingin terlalu terobsesi dengan keinginan saya untuk sekolah sehingga melupakan aspek kehidupan yang lain. Saat itu saya perlu mengumpulkan uang untuk menikah sehingga merasa belum siap untuk langsung melanjutkan studi S3. Kedua, bekerja akan memberikan saya lebih banyak pengalaman dan wawasan yang barangkali dibutuhkan ketika sekolah S3. Jeda bekerja sebelum S3 yang saya habiskan di sebuah research center memberi banyak wawasan tentang teknologi-teknologi yang akan dibutuhkan puluhan tahun mendatang, bagaimana teknologi dibuat dan dipatenkan hingga digunakan dalam industri, bagaimana bekerja dalam tim, dan sebagainya.

Saya bekerja hari Senin hingga Jumat. Hari Sabtu dan Minggu biasanya saya gunakan untuk jalan-jalan, belanja, olahraga, atau sekedar bersantai di apartemen. Saya merasa ada yang kurang saat itu, karena seharusnya saya melakukan sesuatu untuk menunjang apa yang saya inginkan beberapa tahun ke depan. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kursus IELTS di British Council.

Walaupun saya menggunakan Bahasa Inggris untuk percakapan di kantor, saya merasa kemampuan bahasa Inggris saya belum mumpuni. Jika saya ingin mendaftar sekolah lagi, tentu saja saya membutuhkan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris. Untuk kuliah di Inggris misalnya, saya harus mengantongi skor IELTS minimal 6.5. Biaya kursus di British Council saat itu 11600 Baht atau sekitar 4 juta rupiah, biaya tes IELTS adalah sekitar 6500 baht atau setara 2.5 juta. Hal sulitnya adalah British Council berlokasi di tengah Kota Bangkok, sedangkan saya bekerja di Pathumthani yang berjarak hampir 50 km dari Bangkok.

Saya nekat dan ngotot. Saya tetap mendaftar kursus di Bangkok saat itu. Ketika orang lain menggunakan weekendnya untuk jalan-jalan, saya pun jalan-jalan tapi untuk kursus. Dari Pathumthani ssampai Bangkok saya harus naik sepeda sampai terminal Van (angkutan umum Toyota commuter), naik Van sejauh 46 km dengan biaya 30 baht sekali perjalanan, kemudian naik BTS (kereta listrik) dari pemberhentian Van ke Siam Center tempat British Counil berada. Perjalanan itu saya lakukan bolak-balik tiap Sabtu Minggu selama 4 bulan. Ketika kursus saya dapati diri saya adalah peserta paling tua karena teman-teman yang lain mayoritas adalah siswa siswi SMA.

Saya tahu diri dan tidak merasa malu. Saya memang butuh meningkatkan skor IELTS saya sehingga saya jalani apa yang menurut saya bisa mendekatkan saya pada target tersebut.

Mendaftar setiap ada peluang fully-funded PhD yang bidangnya sesuai dengan riset yang saya tekuni

Tahun 2015, saya bekerja di Indonesia sebagai dosen di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan. Alasan saya pindah kerja di Balikpapan adalah untuk mendekatkan diri dengan istri dan orang tua saya. Saat saya merasa bekerja di Thailand kurang rasional untuk life-balance saya, saya memutuskan untuk pindah kerja sekitar Juli 2015. Mengapa tidak rasional? Saya merasa ada yang salah ketika saya harus pulang pergi Thailand-Indonesia setiap bulannya untuk mengunjungi istri saya.

Gerilya untuk mencari peluang S3 langsung saya mulai walaupun saya juga baru menapaki karir di ITK. Saat itu saya belum terpikir sama sekali tentang mencari beasiswa, termasuk untuk mendaftar beasiswa LPDP. Saya cukup percaya diri untuk bisa memperoleh beasiswa yang bukan berasal dari pemerintah Indonesia. Sekolah S3 berbeda dengan S2 karena ada banyak sekali peluang proyek penelitian yang sekaligus memberikan beasiswa. Saya kumpulkan semua informasi dari grup-grup beasiswa di facebook, milis beasiswa, jobs.ac.uk, academicpositions.eu, dan website-website lain yang menawarkan funded PhD project. Beruntung sekali karena kebanyakan posisi PhD yang ditawarkan adalah jurusan Teknik Elektro seperti bidang saya, saya hanya perlu memfilter lagi mana yang terkait dengan penelitian saya sebelumnya.

Sampai dengan awal Maret 2016, sudah beberapa kali saya mendapat penolakan atas lamaran PhD saya. Saya mendaftar proyek-proyek penelitian profesor di TU Graz Austria, TU Denmark, La Trobe University, Adelaide University, University of Leeds Inggris, Turkiye Burslari Scholarship, Australia Award Scholarship.

Saya ngotot dan terus mendaftar peluang lain yang ada. Saya usahakan semua persyaratan dokumen yang diminta di tiap pendaftaran. Sampai suatu ketika saya mendapat angin cukup segar dari Newcastle University.

Profil dan pengalaman publikasi ilmiah sangat membantu saat mendaftar S3

Kesempatan fully-funded PhD yang saya coba di Newcastle University adalah skema Doctoral Training Awards (DTA) selama 4 tahun. Jika diterima, maka S3 saya akan dibiayai penuh oleh Newcastle University. Saya memilih 2 bidang, yang pertama adalah IoT based structural health monitoring, dan pilihan yang kedua adalah flexible electronics. Kedua topik tersebut menarik bagi saya karena berkaitan dengan artikel ilmiah saya yang telah terbit di salah satu jurnal internasional.

Pendaftaran DTA dilakukan sekaligus dengan pendaftaran online kampus, sehingga saat itu statusnya saya sudah melengkapi sebagian besar persyaratan dokumen pendaftaran kampus. Sebelum ada pengumuman DTA, saya dapat email menggembirakan dari salah satu profesor yang membimbing program DTA yang saya pilih. Profesor Gui Yun Tian berkata publikasi ilmiah saya di jurnal xxx sejalan dengan proyek yang sedang dia kerjakan. Beliau men-cc peejabat-pejabat lain yang memiliki keputusan terhadap penerima beasiswa DTA.

Email itu cukup membuat saya gembira dan percaya diri sehingga saya yakin saya mendapat beasiswa DTA tersebut.

Singkat cerita, saya pun ditolak pada program DTA 2016 Newcastle University. Saya dikatakan sebagai kandidat yang menempati posisi/ranking kedua (reserved place), dan yang mendapatkan beasiswa hanyalah kandidat di posisi pertama. Saya akan mendapatkan DTA jika yang pada posisi pertama mengundurkan diri. Namun, saya pikir itu hampir tidak mungkin. Kabar baiknya saat itu adalah saya berkesempatan memperoleh beasiswa parsial dari fakultas (bukan skema DTA) yang jumlahnya tidak besar.

Saya tidak membuang kesempatan tersebut walaupun saya tau bahwa tidak mungkin saya lanjut kuliah hanya dengan beasiswa parsial. Saya menyusun strategi agar profesor yang sebelumnya mengemail saya akan memperjuangkan pendanaan untuk studi S3 saya. Yang saat itu saya lakukan adalah memberitahu profesor bahwa pendaftaran saya pada skema DTA ditolak dan saya tidak memiliki calon pemberi funding sekarang. Saya katakan jika tidak ada pendanaan penuh dari Newcastle University, maka berilah saya offer letter dan saya akan mengusahakan mencari beasiswa.

Korespondensi tentang pendanaan tidak berlangsung singkat. Saya terus menawar agar saya mendapat pendanaan dari pihak universitas atau industri di Inggris. Namun, lagi-lagi profesor menawarkan beasiswa parsial. Saya ditawari akan diberi biaya hidup di Inggris, namun saya harus membayar tuition fee (biaya kuliah). Jelas, kesempatan itu tidak mungkin saya ambil karena biaya kuliah di Inggris yang sangat tinggi, yaitu sekitar 300 juta rupiah per tahunnya.

Rintangan mendapatkan Unconditional offer letter karena surat rekomendasi yang kurang

15 Maret 2016, saya mendapatkan Conditional offer letter dari Newcastle University karena saya terus berdiskusi dengan calon pembimbing saya. Setelah saya klarifikasi ke bagian pendaftaran, ternyata saya hanya mendapat Conditional offer letter dikarenakan satu persyaratan yang belum saya penuhi, yaitu surat rekomendasi dari mantan atasan kerja saya di Thailand. Mengapa saya ngotot ingin mendapat Unconditional offer letter? Karena saya sudah merasa sulit sekali untuk mendapatkan pendanaan, sehingga saya beralih ke plan B, yaitu mencoba beasiswa LPDP.

Saat pendaftaran ke kampus Newcastle, saya mengajukan dua nama pemberi rekomendasi, yaitu wakil rektor 1 Institut Teknologi Kalimantan dan mantan atasan saya ketika bekerja di Thailand. Rekomendasi dari wakil rektor 1 ITK tidak ada masalah karena saya sendiri yang menulis konsep surat rekomendasi dan meminta beliau untuk mengirimkannya menggunakan email resmi ke Newcastle University. Namun, rekomendasi dari atasan saya di Thailand ternyata tidak kunjung dikirimkan. Semenjak resign, saya memang tidak sering mengontak beliau.  Terakhir kali saya mengontak beliau melalui email dan mengatakan bahwa jika ada permintaan surat rekomendasi dari Newcastle University mohon untuk mengirimkannya. Saat itu saya sedikit curiga bahwa salah satu alasan saya tidak lolos program DTA adalah karena kurangnya surat rekomendasi tersebut.

Saya terus ngotot berusaha mengontak mantan atasan saya di Thailand melalui berbagai cara, yaitu email, telepon, line chat, bahkan melalui teman saya yang masih bekerja di sana. Alhamdulillah, tanggal 31 Maret 2016, beliau membalas chat saya pada line dan mengatakan bahwa beliau sudah mengirimkan surat rekomendasi ke pihak Newcastle University. Berikutnya, saya mengirimkan email ke Newcastle University agar mendapatkan Unconditional offer letter.

Perlu surat keterangan sehat untuk LPDP, tapi justru diopname di rumah sakit karena sakit tipes dan demam berdarah

Deadline pendaftaran LPDP adalah 15 April 2016 saat itu. Di awal April, saya sudah hampir memenuhi semua persyaratan kecuali 2 dokumen, yaitu Unconditional offer letter dan surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, dan surat bebas TBC. Saya menyesal sekali menunda untuk mengurusnya.

Sejak akhir Maret saya berada di Solo untuk menunggu kelahiran anak pertama. Entah apa yang saya salah makan, saya demam berhari-hari. Sampai anak saya lahir pada 5 April pun saya masih dalam keadaan demam. Merasakan kondisi saya yang semakin parah, saya akhirnya cek darah beberapa kali, diketahui terkena tipes, dan disarankan dokter untuk opname. Keadaan saat itu sungguh tidak mengenakkan buat saya. Saya dirawat di rumah sakit yang berbeda dengan istri saya karena rumah sakit tempat istri saya melahirkan sedang penuh. Padahal, anak saya baru saja lahir dan saya hanya sempat melihatnya beberapa menit saat ikut masuk ke ruang bayi. Yang lebih kasihan adalah mertua saya karena harus mengurus 2 orang sakit sekaligus di rumah sakit yang berbeda.

Saya sungguh tidak tenang saat berbaring di rumah sakit. Deadline LPDP kurang dari 10 hari. Saya selalu menghitung hari, kira-kira kapan saya bisa keluar rumah sakit dan segera mengurus Surat keterangan sehat. Sedihnya, dokter mengatakan saya tidak hanya terkena tipes, tetapi juga demam berdarah karena trombosit saya turun drastis. Logika saya terus bermain. Kalau saya opname seminggu saja, saya masih punya sekitar 3 hari untuk melengkapi dokumen LPDP. Tapi, dulu saya pernah terkena demam berdarah dan diopname selama 2 minggu. Saya sulit sekali menerima keadaan saat itu, sampai saya berpikir keras, apakah memang di sini Allah menghentikan langkah perjuangan saya untuk sekolah S3.

Saya ngotot lagi dengan diri saya. Saya mencoba berpikir sebaliknya. Allah mungkin sedang mencoba daya juang saya. Saat itu, yang saya bisa lakukan adalah mencoba sembuh secepat mungkin, keluar dari rumah sakit, dan mengurus surat kesehatan. Semua makanan yang diberikan rumah sakit saya paksa untuk saya makan. Sulit sekali untuk melakukannya, tapi setiap saya ingat perjuangan saya mendaftar S3 ke berbagai kampus, saya habiskan makanan yang ada di piring agar tubuh saya segera fit kembali.

Tanggal 12 April saya sudah boleh keluar dari rumah sakit karena trombosit saya sudah naik. Saya pulang, melihat anak saya dan besoknya saya harus kembali ke Kalimantan. Tanggal 13 pagi-pagi saya terbang ke Balikpapan agar siangnya saya dapat langsung ke RSUD dan mendaftar medical check up. Saya minta bagaimana agar saya mendapatkan surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, dan surat bebas TBC secepat mungkin. Kata pihak rumah sakit, surat keterangan sehat dan bebas narkoba dapat selesai sehari, tetapi surat bebas TBC biasanya selesai dalam waktu 3 hari. Itu tidak mungkin, karena tanggal 15 sudah deadline pendaftaran beasiswa LPDP.

Saya tetap ngotot agar dapat mendapat semua surat dalam 1 atau 2 hari. Saya memilih untuk medical check up di poliklinik eksekutif dengan biaya lebih mahal, namun antriannya sedikit. Disitu saya ketahui bahwa sebenarnya surat bebas TBC itu selesai dalam 3 hari jika diperiksa dengan metode memasukkan obat tertentu ke jaringan bawah kulit, sedangkan untuk pemeriksaan dasar dengan metode rontgen dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari. Akhirnya, pada tanggal 14 April saya dapatkan 3 surat kesehatan dari RSUD Balikpapan.

Unconditional offer letter tidak kunjung dikirimkan, ternyata pihak admission Universitas yang saya email waktu itu sedang cuti

Ini adalah peristiwa mendebarkan terkahir kali sebelum saya submit pendaftaran beasiswa LPDP. Persyaratan satu-satunya yang belum saya penuhi adalah Unconditional offer letter. Tanpa surat tersebut saya bisa mendaftar beasiswa LPDP, tetapi tentu pendaftaran saya tidak sekuat ketika saya sudah punya Unconditional letter dari kampus. Deadline pendaftaran tinggal 1 hari. Betapa kagetnya saya ketika saya mengirimkan email ke petugas pendaftaran yang pernah saya kontak dan mendapat balasan otomatis yang mengatakan bahwa dia sedang cuti. Walaupun deadline tinggal 1 hari dan saya belum mendapatkan offer letter baru, lagi-lagi saya berpikir bahwa bodoh sekali kalau saya menyerah di titik tersebut.

Saya ngotot lagi. Saya kirim email ke calon pembimbing saya. Saya berterus terang bahwa saya memerlukan unconditional offer letter untuk mendapatkan sponsor. Esok harinya, tanggal 15 April begitu mendebarkan. Seharian saya tunggu datangnya offer letter baru. Alhamdulillah, saya mengetahui bahwa calon pembimbing saya adalah orang yang sangat baik dan cukup berpengaruh karena pada jam 19.00 saya mendapatkan Unconditional offer letter dari kampus. Tanpa menunggu lagi, saya langsung lengkapi berkas dan form seleksi administrasi beasiswa LPDP sebelum deadline pada jam 24.00 malam. Semua proses pendaftaran beasiswa LPDP saya selesaikan pada pukul 21.00 dan sangat bersyukur atas semua yang saya alami.

Semoga cerita saya ini dapat menginspirasi teman-teman yang memiliki impian untuk pantang menyerah hingga detik-detik terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s