Posted in Education, Tips

Nasihat Untuk Yang Memulai Studi S3 (PhD)

Saya merasa sangat beruntung ketika sadar bahwa saya menemukan seorang pembimbing yang tepat untuk studi S3 saya. Profesor Gui Yun Tian adalah seorang profesor di bidang teknologi sensor berkebangsaan Cina. Saat memilihnya, saya hanya melihat apa riset yang dikerjakannya, bagaimana profil beliau, dan bagaimana beliau merespon email saya. Ketika saya tau risetnya sangat menarik dan sesuai bidang saya, profil akademiknya mengagumkan, dan beliau menjawab email saya dengan sangat welcome, maka saya memilihnya. Dan benar, belum genap sebulan bekerja dengannya, saya merasa cocok dengan gayanya dalam membimbing mahasiswa.

Gaya beliau dalam membimbing bukanlah gaya cuek dan santai seperti kebanyakan pembimbing. Seperti yang kita sering dengar, pembimbing di universitas-universitas di Eropa memiliki kecenderungan untuk membebaskan bagaimana cara kita bekerja dan apa yang kita kerjakan. Profesor Tian justru membimbing dengan metode yang ketat dan keras. Bagi yang terbiasa dan ingin bekerja dengan santai, sudah pasti tidak suka dengan beliau.

Grup riset kami melakukan pertemuan rutin yang kami sebut “one-to-one meeting” setiap hari Selasa dan Jumat. Sebelum pertemuan itu, masing-masing dari kami harus membuat laporan kemajuan penelitian. Pertemuan dua kali seminggu itu adalah kesempatan untuk mendiskusikan (bukan mempresentasikan) penelitian yang sedang kita jalankan. Selain pertemuan rutin tersebut, beliau juga sering meminta kami menemuinya untuk sekedar “quick-chat” untuk menyelesaikan masalah-masalah spesifik pada riset kami.

Satu hal yang saat itu saya heran adalah ketika beliau mengundang “coffee break” pada hari Jumat. Tentu di awal saya mengira bahwa pertemuan itu adalah kesempatan bagi kami untuk berkumpul minum kopi atau makan bersama menjelang weekend. Ternyata, pertemuan coffee break itu juga tidak jauh berbeda dengan one-to-one meeting di mana kami juga harus mendiskusikan riset-riset kami.

Momen one-to-one meeting adalah momen mendebarkan bagi saya. Profesor banyak memberi nasihat dan berpendapat sedangkan kami hanya berbicara seperlunya. Entah kenapa saya ingin sekali menuliskan nasihat-nasihat dari beliau ketika one-to-one meeting dengan saya. Barangkali catatan ini bisa bermanfaat ketika saya buka beberap tahun mendatang.

Riset membutuhkan motivasi besar dan antusisasme

Riset bertujuan untuk memberi kebaruan pada ilmu pengetahuan, melahirkan teori-teori dan hasil-hasil eksperimen baru. Apa yang ingin kita teliti kadang tidak bisa kita perkirakan di mana ujungnya karena kita belum tahu dan sedang mencari tahu. Bekerja dengan banyak ketidakpastian seperti ini tentunya membutuhkan kemauan untuk menghadapi banyak masalah dan menyelesaikannya. Setiap apa yang kita kerjakan harus beralasan dan ada logikanya. Kenapa begini, kenapa kita ingin mengerjakan itu, dan sebagainya. Saat kita tidak mampu menjawab mengapa kita mengerjakan suatu hal, maka bisa jadi kita sebenarnya tidak ingin melakukannya.

Inti dari riset adalah menyelesaikan masalah

Bisa saja kita lupa alasan untuk apa kita studi S3. Ada mahasiswa yang hanya ikut apa yang diperintahkan oleh pembimbingnya, atau mempunyai target-target tapi tidak tahu bagaimana mencapainya. Studi doktoral pada dasarnya adalah belajar untuk menyelesaikan masalah dengan metode dan manajemen yang benar, kemudian mempublikasikannya. Cari sebuah masalah yang menurutmu paling menarik dan belum pernah dikerjakan orang lain, kemudian selesaikan. Setelah menempuh studi S3, kita diharapkan mampu menjadi problem solver yang baik sehingga mampu berkontribusi untuk menambah ilmu pengetahuan maupun mengambil keputusan.

Riset perlu konsistensi

Dalam mengerjakan sebuah penelitian, mahasiswa perlu membuat “story line” yang baik. Jangan sampai tiba-tiba kita mengubah alur riset yang tidak ada hubungannya dengan yang sebelumnya. Jangan sampai mengerjakan sesuatu yang tidak bisa saling kita kaitkan. Alur cerita riset yang baik juga akan mudah untuk ditulis dan dipublikasikan.

Konsistensi juga dibutuhkan dalam bidang penelitian kita. Jika tahun ini kita mengerjakan bidang A dan tahun depan mengerjakan bidang B yang tidak ada hubungannya sama sekali, maka kita dapat dikatakan tidak konsisten. Perlu diingat bahwa hasil karya tulisan atau publikasi riset kita akan dilihat dunia dan menunjukkan profil atau siapa diri kita. Jika kita sebagai individu tidak memiliki ciri khas keahlian karena tidak konsisten, maka orang lain tidak akan memandang kita sebagi expert di satu bidang pun.

Pentingnya manajemen waktu

Setiap orang pasti punya gaya bekerja masing-masing, pastikan kita punya target dan setiap target harus tercapai. Hargai setiap menit dalam setiap hari yang kita lalui. Tanyakan pada diri kita, apa yang sudah kita lakukan dalam setengah jam ini dan apa hasilnya. Riset S3 sangat membutuhkan manajemen waktu. Jika riset tidak terorganisir dengan baik, maka hasilnya pun tidak akan baik. Jika kita mampu mengatur waktu dengan baik, maka bisa jadi apa yang orang lain kerjakan dalam 3 bulan bisa kita kerjakan hanya dalam satu bulan.

Tidak semua hal bisa kita lakukan sendiri

Jangan pernah berpikir kita bisa melakukan semua hal sendiri. Suatu saat, teman lab kita akan menjadi kolega atau partner kerja untuk berkolaborasi. Perbanyak diskusi dengan teman dalam menyelesaikan masalah. Dalam riset, bisa saja kita terlarut dalam kesalahan yang membawa kita terlalu jauh, sehingga sangat sulit untuk membuatnya benar kembali. Ketika kita memiliki hasil penelitian, tunjukkan pada rekan penelitian dan minta pendapatnya. Hal ini juga akan membantu kita untuk lebih fasih dalam mengkomunikasikan penelitian yang kita kerjakan.

Melawan kekurangan dalam diri kita sendiri

Studi S3 bukan sebuah perlombaan dengan siapapun. Walaupun ada masa ketika kita merasa penelitian atau studi S3 itu berat, kita tidak perlu membandingkan performa kita atau skill kita dengan orang lain. Kita hanya perlu melawan kekurangan yang ada pada diri kita sendiri. Satu orang barangkali sangat pandai menyelesaikan masalah A, sedangkan kita di masalah B. Yang kita jadikan patokan hanyalah masalah apa yang ingin kita selesaikan dan bagaimana kita memecahkannya sampai berhasil. Jika ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, mau tidak mau harus kita selesaikan dan tidak bisa menyerah. Karena hanya dari usaha menyelesaikan masalah itulah kita mendapat pelajaran dan pengalaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s