Posted in Thailand

Belajar di Thailand

Secara sepintas, pengunjung dari Indonesia selalu menganggap bahwa Thailand (Bangkok) tidak ada yang berbeda dengan Jakarta. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa bagi pengunjung-pengunjung singkat (kurang dari 1 bulan) suasana kota ini memang sama padatnya, ditambah harga barang dan makanan yang relatif hampir sama dengan Jakarta. Ada beberapa pandangan lain yang cukup unik ketika saya pulang ke Indonesia. Ada yang menilai Bangkok sangat baik pada sisi hasil pertaniannya, sehingga memancing saya untuk bercerita mengenai beras dan buah-buahan. Saya dapat ungkapkan betapa enaknya beras dan bagusnya kualitas buah-buahan di Thailand. Namun ada pula yang mengenal Bangkok dengan surganya para pria, atau kota “esek-esek” yang sekitar 70% pendapatan negaranya berasal dari hasil asusila. Namun saya tangkis bahwa hal tersebut adalah tidak benar, karena pendapatan terbesar Thailand adalah berasal dari sektor pariwisata yang barangkali dipelesetkan ke sektor asusila tersebut. Walaupun memang benar adanya bahwa hiburan semacam itu legal dan sangat umum terlihat di beberapa daerah di Bangkok namun tidak berarti usaha dibidang tersebutlah yang satu-satunya penyumbang pendapatan terbesar di sektor pariwisata.

Pertanyaan lain yang menarik ketika saya pertama kali hendak berangkat ke Thailand adalah “Mengapa anda melanjutkan studi di Thailand?”. Pertanyaan tersebut terlontar dari seorang petugas imigrasi yang mengecek paspor saya di Bandara Soekarno-hatta. Saat itu saya merasa pertanyaan tersebut masih sulit untuk dijawab, karena satu-satunya alasan saya belajar di Thailand adalah karena pemberian beasiswa yang sangat besar. Saat saya menyelesaikan studi master saya, barulah saya mampu menjawab pertanyaan itu dalam hati dan mengucap syukur telah belajar di negara ini. Berikut adalah penjelasan singkat saya dari segi perkuliahan di bidang teknik.

1. Sistem pendidikan di perguruan tinggi yang umumnya berbasis riset dan laboratorium

Saat S1, mahasiswa Thailand sudah diharuskan untuk memilih Lab tempat di mana mereka akan menyelesaikan proyek tahun terakhir. Sebuah lab biasanya dipimpin oleh seorang dosen senior di mana lab tersebut juga memiliki mahasiswa-mahasiswa doktor yang juga mengurusi segala perihal tentang lab tersebut. Karena saya mengikuti program research-based master maka keseharian saya lebih banyak di lab ketimbang berkuliah seperti mahasiswa S1. Basis riset sangat kental di mahasiswa S2 dan S3. Sebagai contoh, di kampus saya, seorang mahasiswa master harus memiliki minimal 2 publikasi ilmiah di konferensi atau seminar internasional sebagai syarat lulus. Sedangkan mahasiswa master diharuskan mempublikasikan 2 buah jurnal internasional atau 1 buah jurnal 2 publikasi di seminar internasional. Sedangkan di Indonesia, hal berbasis riset baru saja diterapkan oleh sedikit universitas. Bahkan terkadang lab hanya digunakan sebagai tempat praktikum dan bukan tempat untuk melaksanakan riset.

2. Fasilitas dan dana riset memadai

Dana perjalanan seminar ilmiah bagi dosen bagaikan tidak terbatas dengan pesawat standar adalah Thai Airways. Saya melihat sangat mudah bagi dosen untuk bepergian ke seminar-seminar internasional karena dana perjalanan pasti diganti oleh universitas. Fasilitas riset pun bukanlah perkara yang sulit. Setiap lab sudah memiliki topik khusus untuk bidang risetnya, sehingga fasilitas riset sudah dipikirkan oleh dosen dan mahasiswa-mahasiswa di lab tersebut dengan dana yang diganti oleh universitas.

3. Dosen-dosen yang berkualitas

Kampus-kampus terkemuka di Thailand memiliki dosen-dosen yang umumnya lulus doktor dari Jepang, USA, UK, Jerman. Karakter dosen pun biasanya sudah terbentuk dari negeri di mana mereka pernah belajar. Dengan pembimbing yang baik, tentunya mental kerja keras, gaya, dan semangat belajar kita akan terbentuk.

4. Nuansa internasional di kampus

Akibat syarat kelulusan yang mengharuskan mahasiswa untuk presentasi di seminar internasional, maka lab sangat mendukung kemampuan untuk selalu berkomunikasi dan presentasi berbahasa Inggris. Selain itu, bagi saya sudah tentu bahasa Inggris adalah hal yang wajib karena saya berada di naungan International College. Kampus-kampus terkemuka di Thailand banyak memiliki mahasiswa internasional, sehingga pergaulan pun otomatis memiliki keragaman negara dari berbagai penjuru dunia. Gaung ASEAN Economic Community (AEC) 2015 pun lebih terasa ketika di Thailand. Informasi mengenai AEC pun tersebar hingga ke pojok-pojok negara ini sebagai persiapan tahun 2015.

5. Kehidupan sosial yang baik dan menyenangkan

Masyarakat Thailand adalah masyarakat yang sangat ramah. Sebagaimana kita orang Asia bahwa senyum dan saling tolong menolong adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, masyarakat Thailand selalu mementingkan hubungan antar manusia dan tidak melulu pekerjaan, sehingga tidak stres seperti pengakuan teman saya yang berkuliah di Eropa. Kepedulian antar sesama pun sangat terjalin dengan baik. Hiburan? Sudah tentu di Thailand banyak tempat-tempat menarik dan hal-hal unik untuk dikunjungi. Pariwisata Thailand yang begitu terkenal merupakan hal yang sayang untuk dilewatkan pada masa liburan.

6. Masyarakat yang lebih tertib dan lingkungan yang aman

Masyarakat di Thailand memiliki budaya antri yang lebih baik dibandingkan Indonesia, berdasarkan pengalaman saya di stasiun, bandara, dan tempat umum lainnya. Orang-orang yang meminum minuman beralkohol bukanlah orang-orang yang jahat karena hal tersebut adalah biasa di Thailand. Sebagai negara yang identik dengan pariwisata, keamanan adalah hal yang sangat diperhatikan oleh pemerintah. Tertibnya masyarakat sekitar tentu juga membantu membentuk diri kita sendiri untuk selalu tertib sebagaimana orang-orang di lingkungan kita.

7. Budaya dan bahasa unik

Budaya dan bahasa adalah sesuatu yang memperkaya wawasan dan intelektualitas seseorang. Thailand juga merupakan negara yang kaya budaya-budaya dan bahasa yang unik, makanan yang khas, yang akan memperkaya pengalaman kita.

8. Transportasi yang sangat mudah

Macet? Ya, Thailand memang masih mengalami kemacetan  terutama di pusat kota Bangkok. Namun transportasi umum di Bangkok dan sekitarnya sangatlah mudah, mulai ojek, bis, van, kereta api, kereta listrik, sangatlah terjangkau dan meriah.

9. Dekat dengan Indonesia

Terkadang hal ini juga menjadi pertimbangan bagi mahasiswa yang ingin belajar di Thailand, khususnya yang sudah berkeluarga. Perjalanan ke Thailand hanya ditempuh kurang dari 4 jam dari Jakarta atau Surabaya. Harga tiket? tidak perlu khawatir karena sekarang tiket harga murah sudah bukan hal yang asing bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s